Saturday, 26 May 2007

Pendapat Tiga Murid Tentang Kekayaan

Sang Guru bijak, pagi itu menerima kembali tiga murid terbaiknya, yang telah pergi merantau selama tiga tahun. Mereka turun gunung dari kampung ke kampung dan dan dari kota ke kota, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan dari Sang Guru: Apakah makna kekayaan bagi manusia? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan menentukan, siapakah yang akan menjadi pengganti sang Guru kelak. Maka kini tibalah saatnya bagi mereka untuk menjawab pertanyaan Sang Guru:

Murid Pertama berkata: Ya Guru, setelah tiga tahun merantau, murid sampai pada kesimpulan, bahwa kekayaan adalah akar kejahatan. Dalam perjalanan, murid banyak menjumpai anak manusia yang rela melakukan berbagai kejahatan, melakukan tipu muslihat, kecurangan, perampokan bahkan pembunuhan untuk memperolah kekayaan. Bahkan setelah meraih kekayaan, mereka kemudian menggunakan kekayaan tadi untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji. Mereka gunakan kekayaan untuk berjudi, berzina, mabuk-mabukan dan madat. Tidak ada kebaikan sedikitpun dari kekayaan. Demikianlah pengamatan murid, oh Guru.

Sang Guru: Oh menarik sekali pengamatanmu murid. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Pertama: Manusia harus menjauhkan diri dari kekayaan yang merupakan sumber kejahatan ini Guru. Supaya selalu dekat dan ingat kepada Yang Maha Esa, kita harus hidup jauh dari kekayaan. Kita dekatkan diri kita kepada Yang Maha Esa dengan meninggalkan ikatan keduniawian seperti halnya kekayaan ini Guru. Kita harus memurnikan hati kita dengan meninggalkan hal-hal yang dapat membuat hati kita terpaut kepada selain Tuhan Yang Maha Esa. Demikian menurut pendapat murid, oh Guru.

Sang Guru tersenyum: Engkau sungguh memiliki kemuliaan wahai murid pertama. Aku bangga kepadamu.

Murid Kedua: Mohon maaf Guru, murid punya pendapat yang berbeda. Selama perjalanan, murid banyak berjumpa dengan raja dan saudagar kaya yang sangat dermawan. Mereka membangun tempat ibadah, mereka membangun tempat tinggal untuk orang miskin, mereka menyantuni anak yatim, mereka memberi makanan dan pertolongan untuk orang yang kesusahan. Mereka mencari kekayaan yang sangat banyak, namun juga menggunakannya untuk kebaikan banyak orang. Murid sampai pada satu kesimpulan, bahwa kekayaan adalah sumber kebaikan, yang akan membawa umat manusia kepada kebaikan. Demikian pendapat murid, oh Guru.

Sang Guru: Oh, sungguh luar biasa pengamatanmu muridku. Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Kedua: Manusia harus mencari kekayaan sebanyak-banyaknya Guru. Dengan memiliki kekayaan yang cukup, maka manusia dapat menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dengan kekayaan yang cukup maka manusia dapat memperolah pendidikan yang baik, dapat beribadah dengan tenang, dapat bersedekah, dapat menolong keluarga dan sesama manusia yang membutuhkan. Manusia tidak boleh hidup dalam kemiskinan Guru. Kita harus melakukan seganap upaya agar manusia terbebas dari kemiskinan dan memperoleh kekayaan. Demikian pendapat murid.

Sang Guru tersenyum: Engkau adalah samudera kebijaksanaan wahai murid kedua. Aku bangga kepadamu.

Sang Guru berpaling ke Murid Ketiga: Murid ketiga, bagaimana menurutmu?

Murid Ketiga: Guru, selama perjalanan, murid telah berjumpa dengan orang kaya yang baik, namun ada juga orang kaya yang jahat. Murid bertemu dengan orang miskin yang baik, dan ada orang miskin yang jahat. Murid menjumpai ada orang kaya yang taat beribadah dan selalu ingat pada Tuhan nya, namun ada juga orang kaya yang lupa pada Tuhan. Seperti halnya ada orang miskin yang selalu ingat pada Tuhan, dan ada juga orang miskin yang lupa pada Tuhan. Banyak orang kaya yang …

Sang Guru tersenyum: Jadi apa maksudmu muridku yang baik?

Murid Ketiga: Maksud murid, ternyata kekayaan adalah sekedar alat. Semuanya akan kembali kepada diri kita sebagai manusia. Manusia yang memiliki tujuan hidup yang baik, akan menggunakan kekayaan sebagai alat untuk mewujudkan kebaikan. Demikian maksud murid, oh Guru.

Sang Guru: Lalu menurutmu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Murid Ketiga: Manusia haruslah mengetahui hendak kemana ia akan menuju. Dengan demikian, apa pun yang dimilikinya di dunia ini hanyalah alat, bukan tujuan. Termasuk kekayaan.

Sang Guru: Lalu hendak kemanakah manusia menuju?

Murid Ketiga: Manusia adalah semata ciptaan Yang Maha Esa. Kesanalah semua manusia menuju. Jika manusia menyadari tujuannya, kekayaan dapat menjadi kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa. Namun jika sebaliknya, maka kekayaan dapat juga menjauhkan manusia dari Yang Maha Esa.

Sang Guru tersenyum: Muridku, sungguh engkau adalah sumber kebijaksanaan dan samudera pengetahuan.

Sang Guru menundukkan kepala menghormat murid ketiga: Engkaulah Guru baru di perguruan ini.

Dan kedua murid yang lain, serentak menunduk hormat pada Murid Ketiga.


Author by :
Fauzi Rachmanto
www.fauzirachmanto.blogspot.com
www.sdgisolutions.com
Selengkapnya/Read More . . . .

Tuesday, 22 May 2007

Sharing Winning Pertama

Sejak menjadi self-employed / freelance programmer sejak awal bulan ini, banyak duka dan cita, rasa ragu, rasa takut, dll bercampur.

Namun,saya tetap konsisten, alhamdulillah dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Sampai saat ini saya menyelesaikan 2 proyek. Alhamdulillah proyek terakhir nilainya cukup besar (kurang lebih 3 kali gaji saya semasa menjadi kuli kantoran :D), terima kasih ya Allah.

Waktu kosong saya isi dengan menbaca buku-buku tentang entrepreneur maupun buku agama dan juga mempersiapkan bisnis online saya yang insya Allah segera selesai. Kemudian, saya menyusun rencana tujuan saya untuk 1 tahun kedepan. Kemudian saya jalan-jalan melihat rumah impian saya, menonton film-film yang bermanfaat (terakhir saya nonton film The Pursuit Of Happiness), intinya banyak hal yang bisa saya kerjakan yang tidak saya dapati selama berkerja di kantor.

Saya tidak merasa takut lagi akan rezeki yang akan saya dapatkan esok atau lusa atau hari-hari berikutnya, karena saya percaya bahwa Allah telah menyediakan rezeki itu pada saya jauh sebelum saya lahir. Sekarang bagaimana saya bisa mengambil keputusan dan berusaha keras untuk menjemput rezeki yang telah disediakan itu?

Keputusan saya menjadi entrepreneur lah menjadi jawabannya, karena apa? karena "9 dari 10 kekayaan di dunia ada di perdagangan / entrepreneur" (Nabi Muhammad SAW)

Selengkapnya/Read More . . . .

Friday, 4 May 2007

Seminar millionaire dan billionare

Setelah saya keluar dari status employee. Ada beberapa momentum yang memberi motivasi saya untuk tetap konsisten in-line pada tujuan saya menjadi entrepreneur. Diantaranya adalah seminar One Minute Millionaire oleh Mr. Tung Desem Waringin dan seminar Billionaire in Training oleh Brad Sugars. Seminar tersebut saya dapatkan dari komunitas TDA, terima kasih TDA.

Tentunya banyak ilmu yang saya dapatkan, di seminar pak Tung (28 April) yang dimulai dari jam 8.00 s.d jam 17.00 (dahsyat ya pak Tung, kuat banget ngomongnya hehe), banyak sekali materi yang disampaikan dan semuanya bermanfaat. Ada satu materi yang bisa langsung saya praktekan yaitu aset alokasi dengan mengalokasikan hasil pendapatan kita ke beberapa bagian diantaranya : 10% untuk amal, 10% untuk tabungan hari tua, 10% untuk dana belajar, 20% untuk dana cadangan dan sisanya 50% untuk dihabiskan. Dan materi-materi lainnya yang sangat dahsyat: pengembangan diri, belajar investasi saham, real estate, dsb.

Untuk seminar Brad Sugars (2 Mei) dimulai dari jam 18.45 s.d 22.00, seminar ini full bahasa inggris dibawakan langsung oleh Brad Sugars. Wah materi yang disampaikan sangat funtastic diantara materi yang saya ingat adalah : kita dituntut untuk LEARN (belajar) sebelum EARN (mendapatkan), yang perlu kita lakukan atau kita pelajari adalah belajar berbisnis yang baik terlebih dahulu, MAKE (membuat) bisnis jangan lupa untuk MANAGE bisnis, kemudian yang dapat menghasilkan passive income adalah bisnis yang kita miliki.Untuk mengetahui lebih lengkap sebaiknya langsung belajar dari muridnya Brad Sugars sekaligus provokator TDA yaitu pak Roni Yuzirman.


Selengkapnya/Read More . . . .